Indonesia memang cukup dikenal di dunia sebagai negara penghasil kopi yang baik. Dengan letak geografis serta karakter tanah yang mendukung, tidak heran jika sebaran perkebunan kopi di Indonesia sangat merata. Bahkan hampir di tiap wilayah di Nusantara punya jenis kopinya masing-masing. Setiap jenis tersebut memiliki karakter yang berbeda-beda. Berikut beberapa jenis kopi lokal asli Indonesia yang wajib kalian seduh.

  1. Kopi Sidikalang
Coffee-picker-in-Batak-head-dress-Seribu-Dolok-Sumatra-2

Foto: majalah.ottencoffee.co.id

Siapa yang tak tahu Kopi Sidikalang. Kopi ini mengalami masa kejayaan pada tahun 1970-an. Kopi dari Kabupaten Dairi ini selalu menjadi incaran pasar, baik dalam maupun luar negeri.Sidikalang adalah nama sebuah Kecamatan di Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara. Sidikalang juga merupakan ibukota Kabupaten Dairi. Bila dilihat dari topografinya, Kecamatan Sidikalang berada di ketinggian 1.066 meter di atas permukaan laut, yang terdiri dari bukit dan lembah dengan kemiringan yang bervariasi. Keadaan lingkungan yang masih cukup alami dan serta suhu udara yang sejuk, menjadikan Sidikalang juga dikenal sebagai penghasil beragam hasil bumi yang pemasarannya bukan hanya di daerah sekitar atau di dalam Provinsi Sumatera Utara saja, tetapi juga sampai ke luar provinsi itu.Salah satu hasil bumi yang terkenal dari Sidikalang adalah kopi. Bisa disebut, kalau berbicara soal kopi Sumatera – bukan terbatas pada Provinsi Sumatera Utara – maka pastilah itu merujuk kepada kopi Sidikalang, atau tak sedikit juga yang menganggap sebagai ikonnya kopi Sumatra. Dari dulu sampai sekarang, kopi Sidikalang kerap disebut rajanya kopi di Sumatra. Kopi Sidikalang juga telah mampu bersaing dengan kopi Brazil, yang disebut sebagai salah satu kopi terbaik di dunia. Ada dua jenis kopi yang dibudidayakan di Sidikalang, yaitu robusta dan arabika. Luas perkebunan kopi Robusta di Kabupaten Dairi adalah 14.117 hektare dengan produksi sekitar 6.750 ton pertahun. Sedangkan tanaman kopi Arabika di kabupaten itu adalah seluas 5.771,5 Ha dengan produksi sekitar 2.650 ton setiap tahunnya.

 

2. Kopi Mandailing

mandailing-lahaapcom

Foto: garudasocialmiles.com

Produk kopi khas dari sumatera utara yang terkenal akan keistimewaan rasa, aroma dan kekentalannya membuat kami mempercayakan kepada ahli perkebunan kopi untuk menanam varietas kopi Arabika Mandailing di sekitar Danau Toba di atas ketinggian 1500 mdpl lebih. Dengan pengolahan pasca panen petik merah dan fermentasi full washed membuat kopi arabika ini lebih sepesial, alami, higienis dan tidak menyebabkan asam lambung naik.Kelebihan kopi Arabika Mandhelling dengan kopi arabika selainnya adalah pada kekentalan kopi hasil seduhannya. Diproses secara higienis dengan peralatan modern, bersih dari segala kotoran dan benda-beda asing yang merusak rasa kopi. Sehingga terciptakan rasa yang begitu sempurna dan benar-benar kopi.Menghasilkan kualitas kopi speciality grade 1. Karakter rasa dari kopi Mandailing secara umum lebih ke full body, medium acidity, Sweet flavour, dan Fruity Aroma. Saat ini para Importir kopi dari berbagai negara seperti Jepang, Singapura, dan Korea sudah mulai melirik kopi ini. Kendala yang dialami saat ini adalah masih minimnya fasilitas untuk produksi kopi dan edukasi terhadap para petani bagaimana cara memproses kopi yang benar, mulai dari mengelola perkebunan hingga menjadi Green bean yang berkualitas ekspor.

 

3. Kopi Aceh Gayo

kopigayo-lahaapcom

Foto: travelesia.co

Saat ini di Aceh terdapat dua jenis kopi yang di budidayakan adalah kopi Arabica dan kopi Robusta. Dua jenis Kopi Gayo Aceh yang sangat terkenal yaitu kopi Gayo (Arabica) dan kopi Ulee Kareeng (Robusta). Untuk kopi jenis Arabica umumnya dibudidayakan di wilayah dataran tinggi Tanah Gayo, Aceh Tenggara, dan Gayo Lues, sedangkan di Kabupaten Pidie (terutama wilayah Tangse dan Geumpang) dan Aceh Barat lebih dominan dikembangkan oleh masyarakat disini berupa kopi jenis Robusta. Kopi Arabica sedikit besar dan berwarna hijau gelap, daunnya berbentuk oval, tinggi pohon mencapai tujuh meter. Namun di perkebunan kopi, tinggi pohon ini dijaga agar berkisar 2-3 meter. Tujuannya agar mudah saat di panen. Pohon Kopi Arabica mulai memproduksi buah pertamanya dalam tiga tahun. Lazimnya dahan tumbuh dari batang dengan panjang sekitar 15 cm. Dedaunan yang diatas lebih muda warnanya karena sinar matahari sedangkan dibawahnya lebih gelap. Tiap batang menampung 10-15 rangkaian bunga kecil yang akan menjadi buah kopi. Varietas Arabica mendominasi jenis kopi yang dikembangkan oleh para petani Kopi Gayo. Produksi Kopi Arabica yang dihasilkan dari Tanah Gayo merupakan yang terbesar di Asia Kopi Gayo merupakan salah satu kopi khas Nusantara asal Aceh yang cukup banyak digemari oleh berbagai kalangan di dunia. Kopi Gayo memiliki aroma dan rasa yang sangat khas. Kebanyakan kopi yang ada, rasa pahitnya masih tertinggal di lidah kita, namun tidak demikian pada kopi Gayo. Rasa pahit hampir tidak terasa pada kopi ini. Cita rasa kopi Gayo yang asli terdapat pada aroma kopi yang harum dan rasa gurih hampir tidak pahit. Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa rasa kopi Gayo melebihi cita rasa kopi Blue Mountain yang berasal dari Jamaika. Kopi Gayo Aceh Gayo dihasilkan dari perkebunan rakyat di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah.   Di daerah tersebut kopi ditanam dengan cara organik tanpa bahan kimia sehingga kopi ini juga dikenal sebagai kopi hijau (ramah lingkungan). Kopi Gayo disebut-sebut sebagai kopi organik terbaik di dunia.

 

4. Kopi Bali Kintamani

balikintamani-lahaapcom

Foto: travelesia.co

Di tangan petani kopi Kintamani, kopi bukan hanya sebatas rasa. Komoditas pertanian itu tak lagi berdiri sendiri, tapi mereka secara kreatif menyatukan kopi dalam nilai kekerabatan Bali, kreativitas-kekerabatan inilah yang membedakan mereka dengan petani kopi lain di tanah air. Darah seni mengalir di seluruh nadi orang Bali. Itulah yang nampak serta terasa kental saat menghastai jalan, menyusuri perkebunan kopi di sepanjang jalan Kintamani. Kopi Sepanjang Kintamani Boleh dibilang, perbukitan Kintamani penuh dengan kebun kopi. Setidaknya, sepanjang jalur wisata yang membentang antara Tampaksiring hingga Singaraja, ada sekitar 15.000 hektar lahan yang ditanami kopi. Kopi Kintamani Bali dihasilkan dari tanaman kopi arabika yang ditanam di dataran tinggi kintamani dengan ketinggian diatas 900 mdpl. Kawasan kintamani berada dilereng gunung berapi batur. Dengan jenis tanah Entisel dan Inceptisol (Regusol). Kawasan ini memiliki udara yang dingin dan kering dengan curah hujan yang banyak selama 6-7 bulan musim hujan. Tananman-tanaman kopi arabika terbentuk dari varietas-varietas terseleksi. Pohon kopi ditanam dibawah pohon penaung dan dikombinasikan dengan tanaman lain dan dikombinasikan dengan tanaman lain dan dikelola serta dipupuk organic. Biji merah dipetik secara manual dan dipilih dengan cara seksama dengan persentase gelondong merahnya minimal 95%. Kopi gelondong merah selanjutnya diolah secara basah, dengan fermentasi selama 12 jam atau 36 jam serta dikeringkan secara alami dengan cara menjemur. Teknik olah yang dikembangkan oleh petani kintamani bisa mewujudkan potensi mutu kawasan kintamani.

 

5. Kopi Papua Wamena

papuawamena-lahaapcom-1

Foto: travelesia.co

Kopi dari timur Indonesia yang ditanam pada ketinggian 1.200 mdpl menghasilkan citarasa ringan dengan aroma yang tajam. Hal yang paling istimewa dari kopi ini karena ditanam secara organik, tanpa campur tangan bahan kimia apapun. Jika kamu menyukai kopi yang ringan, bertekstur lembut dan nyaris tanpa ampas maka Kopi Papua Wamena menjadi pilihan yang tepat.

 

6. Kopi Flores Bajawa

flores-lahaapcom

Foto: kopibajawa.com

Kopi Flores Bajawa dihasilkan terutama dari Kabupaten Ngada. Kopi ini memiliki sedikit aroma fruity dan sedikit bau tembakau merupakan citarasa yang diberikan pada after taste-nya. Sebuah keunikan yang mungkin tak didapatkan dari biji kopi yang berasal dari daerah lain.

 

7. Kopi Toraja

toraja-lahaapcom

Foto: travelesia.co

Tana Toraja adalah sebuah kabupaten di pegunungan Sulawesi Selatan, berjarak 300 kilometer dari Makassar, ibukota provinsi itu. Meski tak setenar Toraja, daerah-daerah di sekitarnya juga produsen kopi bermutu: Kalosi di Enrekang dan Mamasa. Kopi Toraja</i> sebagian besar ditanam di perkebunan kecil milik penduduk di lereng-lereng gunung. Orang Toraja dikenal karena mampu memelihara tradisi yang sudah berumur ratusan tahun. Sama seperti pesta-pesta adat yang ritualnya sudah berlangsung turun-temurun, proses pengolahan kopi juga melalui tradisi yang berumur ratusan tahun Toraja sebagai penghasil kopi Torabika dengan rasa khas (Toraja adalah gudang kopi terbesar di wilayah timur Indonesia). Kopi Toraja memiliki cita rasa yang berbeda dan khas dibanding dengan dengan kopi dari wilayah lain didunia ini. Mutu kandungan tanah (soil) dipegunungan Sulsel ini yang membuat rasa kopi ini memiliki kesan tersendiri. Kopi toraja adalah kopi yang memiliki kandungan asam rendah dan memiliki body yang berat. Kopi ini juga dikenal dengan kopi celebes kalossi, yang diambil dari nama kolonial Belanda untuk salah satu daerah di Sulawesi. Kopi ini termasuk ke dalam jenis kopi arabica. Profil kopi toraja mirip dengan kopi Sumatera. Biasanya orang mencari kopi ini karena body yang berat dan rasa yang tidak asam. Sebagian orang bilang, kopi Sulawesi dan kopi Sumatera memiliki rasa khas yang serupa, seperti rasa tanah dan hutan (sulit membayangkan bagaimana rasanya). Rasa tersebut muncul karena terpengaruh pemrosesan setelah biji kopi dipetik. Aroma wangi kopi langsung tercium ketika membuka kemasan, meskipun tidak terlalu kuat. Rasa pahitnya berbeda dengan kopi jawa atau kopi lintong. Dan memang benar ada rasa seperti tanah di dalam kopi ini (jangan konotasikan ini dengan hal yang negatif, rasa tanah ini menjadi nilai lebih kopi toraja). Beberapa jenis kopi meninggalkan rasa pahit cukup lama di mulut, namun tidak dengan kopi toraja ini. Rasa pahitnya langsung hilang. Dan hal lain yang menarik yaitu sedikit rasa asam dalam kopi ini.

 

8. Kopi Jawa/ Priangan/ Preanger

preanger-lahaapcom

Foto: priangankopi.blogspot.com

Kopi yang berasal dari Pulau Jawa ini ternyata memiliki keunikan cita rasa sendiri. Aroma rempah yang lahir secara alami menjadikan kopi jenis ini dinikmati karena memiliki karakteristik yang berbeda. Meskipun kopi Jawa tidak sekuat kopi Sumatera dan Sulawesi dari segi cita rasa dan aroma, tetapi dia tetap memiliki penikmat sendiri karena aroma tipis rempah yang dihasikan. Menjadikan pengalaman minum kopi terasa lebih unik dan berbeda. Sebagian besar kopi Jawa melalui proses giling basah. Itu jugalah yang membuat cita rasanya tidak terlalu kuat. Meski begitu kopi Jawa tetap diminati karena menurut beberapa ahli, tidak semua kopi nusantara mampu menghasikan kopi yang beraroma ‘rempah’.

 

9. Kopi Luwak

kopiluwak-lahaapcom

Foto: travelesia.co

Kopi luwak  yaitu buah kopi matang pohon yang dimakan oleh luwak (sejenis musang), kemudian dikeluarkan sebagai kotoran luwak tetapi biji-biji kopi tersebut tidak tercerna sehingga bentuknya masih dalam bentuk biji kopi. Jadi di dalam perut musang biji kopi mengalami proses fermentasi dan dikeluarkan lagi dalam bentuk biji bersama dengan kotoran Luwak. Selanjutnya biji kopi luwak dibersihkan dan diproses seperti kopi biasa. Kopi luwak merupakan salah satu upaya meningkatkan nilai tambah komoditas kopi, di samping komoditas kopi biasa seperti kopi reguler Arabika (Java coffee) dan kopi reguler Robusta. yang membedakan kopi luwak dengan biji kopi biasa adalah dimakan oleh Luwak (sejenis musang) dan di keluarkan dalam bentuk biji kopi, Sehingga aromanya lebih harum serta ada rasa pahit dan getir asam yang lebih khas dan special. Kopi luwak merupakan jenis biji kopi yang termahal di dunia, sehingga sampai masuk ke Guiness Book of Records. 4 tahun belakangan ini harga kopi luwak di pasar internasional semakin meningkat, bahkan mencapai US$ 500/kg bentuk biji kering (kadar air 11,5%). Bandingkan dengan harga kopi biasa kualitas nomor 1 yang hanya US$ 4,5/kg. Kemasyhuran kopi luwak telah terkenal sampai kemancanegara, bahkan di Luar Negeri, terdapat kafe yang menjual kopi luwak (Civet Coffee) dengan harga yang mahal. Sejak dahulu, sewaktu penjajahan Belanda kopi luwak sudah menempati posisi pasar paling atas, baik dilihat dari sisi rasa maupun harga. Hanya saja, karena dulu kualitas produk belum terjaga secara kontinyu, harganya meskipun berada di posisi tertinggi tidak bisa dikerek lebih tinggi lagi. Penyebab utamanya, kopi luwak 100% masih tergantung pada alam.

Kekayaan citarasa kopi yang dimiliki oleh Nusantara ini tentu saja patut menjadi hal yang juga kamu jelajahi. Mari ngopi!

 

Sumber: – http://www.travelesia.co/2014/04/10-aneka-kopi-terbaik-nusantara.html

-http://citizen6.liputan6.com/read/2332408/mengenal-jenis-jenis-kopi-nusantara-terfavorit